Jumat, 08 Februari 2019

kimor II:mekanisme reaksi SN1

Mekanisme Reaksi Substitusi Nukleofilik SN1
Reaksi SN1 adalah suatu reaksi substitusi dalam kimia organik. Dimana, SN merupakan singkatan dari substitusi nukleofilik dan 1 memiliki arti bahwa tahap penentu laju reaksi ini ialah reaksi molekul tunggal. Reaksi ini melibatkan sebuah zat antara karbokation dan umumnya terjadi pada reaksi alkil halida sekunder ataupun tersier, atau dalam keadaan asam kuat, alkohol sekunder dan tersier. Dalam kimia anorganik, SN1 dikenal sebagai mekanisme disosiatif. Mekanisme reaksi ini pertama kali diajukan oleh Christopher Ingold, dkk. pada tahun 1940.
            Kecepatan reaksi SN1 tidak tergantung pada reagen, namun sangat bergantung pada substratnya. Contoh SN1 (stepwise mechanism) :



          Dalam reaksi SN1, mengandung semua faktor yang menstabilkan ion karbonium, reaksi menjadi lebih cepat. Pada umumnya energi yang dipakai untuk mengionisasi sebagian diberikan oleh pelarut. Beberapa contoh reaksi substitusi nukleofilik adalah alkil halida, alil halida, reaksi pemutusan eter dengan  HI, dan alkilasi dengan alkil halida (sintesis Williamson).

            Reaksi substitusi nukleofilik unimolekuler (SN1) terjadi melalui dua tahap. Pada tahap pertama, ikatan antara karbon dan gugus bebas putus, atau substrat terurai. Elektron-elektron ikatan terlepas bersama dengan gugus bebas, dan terbentuklah ion karbonium. Pada tahap kedua, yaitu tahap cepat, ion karbonium bergabung dengan nukleofil akan membentuk hasil. Berdasarkan gambar dibawah, diagram energi untuk semua reaksi SN1 menyerupai adisi elektrofilik pada alkena, yaitu raksi lain yang memiliki karbokation intermediet (zat antara). Energi aktivasi untuk langkah pertama (langkah penentu laju) jauh lebih besar daripada langkah berikutnya. 

            
      Reaksi SN1 antara molekul A dan B memiliki tiga tahapan, yaitu:
  1. Pembentukan sebuah karbokation dari A dengan pemisahan gugus lepas dari karbon, tahap ini berjalan dengan lambat dan reversibel.
  2. Serangan nukleofilik: B bereaksi dengan A. Jika nukleofil tersebut adalah molekul netral (contohnya pelarut), tahap ketiga diperlukan agar reaksi ini selesai. Jika pelarutnya adalah air, maka zat antaranya adalah ion oksonium.
  3.   Deprotonasi: penyingkiran proton pada nukleofil yang terprotonasi oleh ion ataupun molekul disekitarnya.


    Mekanisme reaksi SN1
                Mekanisme reaksi SN1 adalah proses dua langkah. Pada langkah pertama yang berjalan lambat, ikatan antara karbon dan gugus pergi putus sewaktu substrat ini berdisosiasi (mengion).


         Elektron dari ikatan C – L pergi bersama gugus pergi, dan terbentuk karbokation. Pada langkah kedua yang berlangsung cepat, karbokation bergabung dengan nukleofili menghasilkan produk.


       Bila nukleofili berupa molekul netral, seperti air atau alkohol, lepasnya satu proton dari oksigen nukleofilik pada langkah ketiga menghasilkan produk air. Angka 1 pada SN1 digunakan untuk menunjukkan mekanisme ini bahwa langkah penentu lajunya yang lambat hanya melibatkan salah satu dari dua reaktan, yaitu substrat. Tahap penentu laju ini tidak melibatkan nukleofili sama sekali. Artinya langkah pertama ini termasuk unimolekuler.   
                            Mekanisme reaksi SN1 hanya terjadi pada alkil halida tesier. Nukleofil yang dapat menyerang adalah nukleofil basa sangat lemah seperti H2O, CH3CH2OH. Pada reaksi SN1 terdiri dari tiga tahap reaksi. Sebagai contoh adalah reaksi antara butil bromida dengan air.


          Kecepatan reaksi ditentukan oleh seberapa cepat halogen alkana terionisasi. Karena tahapan awal yang lambat ini hanya melibatkan satu spesies, maka mekanisme ini disebut sebagai SN1 (substitusi nukleofilik satu spesies yang terlibat dalam tahap awal yang lambat).

    Ciri-ciri reaksi SN1
    Adapun ciri-ciri suatu reaksi yang berjalan melalui mekanisme SN1 adalah sebagai berikut:
    1.    Kecepatan reaksinya tidak tergantung pada konsentrasi nukleofil. Tahap penentu kecepatan reaksi adalah tahap yang pertama dimana nukleofil tidak terlibat.
    2.    Jika karbon pembawa gugus pergi adalah bersifat kiral, reaksi menyebabkan hilangnya aktivitas optik karena terjadi rasemik. Pada ion karbonium, hanya ada gugus yang terikat pada karbon positif. Oleh karena itu, karbon positif mempunyai hibridisasi sp2 dan berbentuk planar. Jadi, nukleofil mempunyai dua arah penyerangan, yaitu dari depan dan dari belakang. Kesempatan ini masing-masing mempunyai peluang 50%. Jadi, hasilnya adalah rasemit. Misalnya, reaksi (S)-3-bromo-3-metilheksana dengan air menghasilkan alkohol rasemik.

          Spesies antaranya (intermediate species) adalah ion karbonium dengan geometrik planar sehingga air mempunyai peluang menyerang dari dua sisi (depan dan belakang) dengan peluang yang sama menghasilkan adalah campuran rasemik. Reaksi substrat R – X yang melalui mekanisme SN1  akan berlangsung cepat jika R merupakan struktur tersier, dan lambat jika R adalah struktur primer. Hal ini sesuai dengan urutan kestabilan ion karbonium, 3o > 2o >> 1o.

    Permasalahan
    1.    Bagaimana campuran rasemik yang dimaksud pada ion karbonium dengan planar yang memungkinkan air menyerang dari dua sisi dengan peluang yang sama ?
    2.    Bagaimana kepolaran pelarut dapat mempengaruhi reaksi SN1?
    3.    Dari penjelasan diatas disebutkan bahwa ”Jika karbon pembawa gugus pergi adalah bersifat kiral, reaksi menyebabkan hilangnya aktivitas optik karena terjadi rasemik”. Bagaimana reaksi yang akan terjadi jika karbon pembawa gugus perginya tidak bersifat kiral?

3 komentar:

  1. Saya bernama Disa ananda NIM A1C117072 akan mencoba membantu menjawab permasalahan no 2.
    Reaksi nukleofilik sn1 sangat dipengaruhi oleh kepolaran pelarut, karena semakin polar pelarut semakin cepat bejalan nya reaksi
    Terimakasih

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Saya Lara
    Nim A1C117062
    Saya akan mencoba membantu menjawab permasalahan nomor 1.
    Spesies antaranya (intermediate species merupakan ion karbonium dengan geometrik planar sehingga air memiliki peluang yang akan menyerang pada bagian dari dua sisi (yaitu depan dan belakang) dengan peluang yang sama juga akan menghasilkan sebuah campuran rasemik X yang melalui mekanisme SN1 akan berlangsung dengan cepat reaksi substrat R jika R merupakan struktur tersier, dan akan lambat jika R adalah struktur primer. Hal ini sesuai dengan urutan kestabilan pada ion karbonium.

    BalasHapus

Kekuatan Asam dan Basa dalam Kimia Organik

1.       Asam basa Bronsted-Lowry. Menurut bronsted-lowry, asam adalah senyawa yang dapat menyumbangkan proton (H + ), sedangkan basa ...